Jum'at, 26/07/2024 02:13 WIB

Ingat, 10 Umpatan Sadis dalam Bahasa Bali

Kata-kata umpatan terkadang tak sengaja terucap dalam kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi (Foto: Kristina Flour/Unsplash)

Balimemo.com - Kata-kata umpatan terkadang tak sengaja terucap dalam kehidupan sehari-hari. Kendati konotasinya kasar, sebagian orang justru menggunakannya sebagai bahasa pergaulan untuk menunjukkan hubungan yang akrab.

Bahasa setiap daerah tentu memiiki kata-kata kasar, salah satunya ialah Bali. Berikut ini macam-macam umpatan dalam Bahasa Bali beserta artinya:


1. Cicing cai


Umumnya, "cicing cai" digunakan untuk menyebut seseorang "anjing" dengan cara yang tidak hormat atau menyinggung. Perlu dicatat bahwa budaya Bali menekankan kesopanan, dan penggunaan "cicing cai" dianggap tidak pantas. Sebaiknya hindari menggunakan kata ini untuk menjaga rasa hormat dalam komunikasi bahasa Bali.

2. Ndas bedag


Arti literal dari "ndas bedag" adalah "kepala besar" dalam bahasa Bali. Frasa ini tidak umum digunakan dalam percakapan sehari-hari karena membawa konotasi negatif. Kata ini digunakan untuk mengejek orang yang bodoh. Sebaiknya hindari menggunakan frasa ini dalam situasi formal.

3. Naskleng


"Naskleng" dalam bahasa Bali berarti nakal. Ini adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang suka berkelahi, melanggar aturan, atau tidak sopan. "Naskleng" juga bisa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang buruk. Misalnya, seseorang mengatakan "masakan itu naskleng" mengartikan rasa yang tidak enak.

4. Ndas keleng

Kata ini cukup sensitif untuk diucapkan, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, "ndas" artinya kepala, sedangkan "keleng" artinya penis atau alat kemaluan laki-laki.

5. Bebangkan


"Bebangkan" dalam bahasa Bali berarti bedebah atau brengsek. Ini adalah kata kasar dan tidak sopan, menggambarkan seseorang yang jahat, kejam, atau tidak bermoral. "Bebangkan" juga bisa digunakan untuk mengartikan sesuatu yang buruk atau menyedihkan. Misalnya, seseorang mengatakan "nasibnya bebangkan" artinya menggambarkan kemalangan seseorang.

6. Bungut gebuh


"Bungut gebuh" dalam bahasa Bali berarti mulut lembek. Ini adalah kata kasar untuk menggambarkan seseorang yang suka membual atau berbohong. Bungut gebuh juga bisa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak benar atau tidak jujur.

7. Bungut celeng


"Bungut celeng" dalam bahasa Bali berarti mulut babi. Ini adalah kata kasar dan tidak sopan, digunakan untuk menggambarkan seseorang yang suka bicara kotor atau kasar. "Bungut celeng" juga bisa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak pantas atau tidak senonoh.

8. Ndihasmu

Kata "ndihasmu" dalam bahasa Bali berarti mulutmu. Kata ini merupakan umpatan yang cukup kasar dan biasanya digunakan untuk memaki seseorang yang suka berbicara omong kosong, mengolok-olok, atau menghina orang lain. Kata "ndihasmu" berasal dari kata "ndih" yang berarti mulut dan "hasmu" yang berarti kamu.

9. Lengeh celeng

Kata "lengeh" dalam bahasa Bali berarti bodoh, sedangkan "celeng" berarti babi. Kedua kata ini berkonotasi negatif, sehingga kata "lengeh celeng" memiliki makna yang sangat kasar artinya bodoh seperti babi. Kata ini biasanya digunakan untuk memaki seseorang yang dianggap sangat bodoh atau ceroboh.

10. Pirata

Dalam Bahasa Bali, "Pirata" memiliki arti yang tidak sopan dan dianggap paling kasar, karena kata ini merujuk kepada leluhur. Jadi, sangat tidak dianjurkan untuk diucapkan.

Ingatlah untuk tidak menggunakan istilah-istilah yang buruk, karena dapat membuat orang lain kesal bahkan memungkinkan terjadinya konflik dan membentuk citra diri yang buruk. Oleh karena itu, sebaiknya hindarilah penggunaaan kata-kata kasar tersebut. Namun, jika kamu merasa ingin mengucapkannya, coba tunda dulu. Luangkan waktu untuk menenangkan diri, lalu pikirkan kembali apakah kata itu benar-benar perlu diucapkan. Bijaklah dalam memilih kata dan berhati-hatilah ketika berbicara.

TAGS : keep silent be quite sssht kata umpatan




TERPOPULER :